Selasa, 20 Oktober 2015

Sumpah Pemuda Yang Di Agung-agungkan Ternyata

Refleksi Sumpah Pemuda Demi Kebangkitan Islam
Oleh : Hizaruddin (Ketua LKM HTI Cha pter UHO).
Pada tanggal 28 Oktober 1928 sumpah pemuda tercetus kala itu, dan hingga saat ini masih sering kita mendengar peristiwa itu, karna hal ini menjadi sebuah momen seremonial setiap tahunnya yang di peringati tanggal 28 Oktober tepatnya. Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Yang katanya sih sering saya dengar dan saya baca Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia.
Sumpah Pemuda adalah merupakan cikal bakal lahirnya symbol sebuah bangsa yang kita kenal kala itu dengan sebutan Indonesia hingga saat ini. Yang dimaksud dengan "Sumpah Pemuda" adalah keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan dua hari, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada "tanah air Indonesia", "bangsa Indonesia", dan "bahasa Indonesia". Keputusan ini juga diharapkan menjadi asas bagi setiap "perkumpulan kebangsaan Indonesia" dan agar "disiarkan dalam segala surat kabar dan dibacakan di muka rapat perkumpulan-perkumpulan".
Istilah "Sumpah Pemuda" sendiri tidak muncul dalam putusan kongres tersebut, melainkan diberikan setelahnya. Berikut ini adalah bunyi tiga keputusan kongres tersebut sebagaimana tercantum pada prasasti di dinding Museum Sumpah Pemuda. Penulisan menggunakan ejaan van Ophuysen.
Pertama:
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea:
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga:
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Kongres sumpah pemuda saat itu di prakarsai oleh berbagai macam dan ragam perkumpulan pemuda masa itu,misalnya kita bisa lihat dari panitia kongres :
Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Tetapi yang perlu di ingat adalah peran penting yang di lakukan oleh pemuda muslim saat pencetusan kongres pemuda II, tetapi sampai saat ini belum ada yang menguak dan memberitakan semua itu, mungkin bangsa ini pura-pura tidak tau seakan mereka tidak terlibat atau di akibatkan oleh distorsi sejarah.
Sumpah menggelegar penuh makna yang hampir seabad itu sudah di ujung tanduk (Zulkifly Hasan ketua MPR) karna motif gerak pemuda saat ini banyak di pengaruhi oleh tendensi politik demokrasi yang berlaku di negri ini. Di perparah lagi oleh berbagai macam perseteruan parpol yang melibatkan garda-garda pemudanya, perseteruan kubu oposisi, degradasi moral dan lain sebagainya. Sehingga untuk mendapatkan para pemuda tangguh lagi berkarakter Islami susah untuk kita dapatkan saat ini. Untuk mengatakan bahwa pemuda saat ini rusak dan bobrok tidak perlu kita yang mengatakannya, justru yang menjadi kekawatiran para politisi dan petinggi bangsa ini adalah mau di bawah kemana masa depan bangsa ini jika pemudanya seperti ini terus.
Tapi siapa menyangka jika sebenarnya sumpah pemuda yang diperingati tiap tahunnya itu tidak memiliki dokumen dan bukti sejarah yang otentik. Hari sumpah pemuda merupakan suatu rekonstruksi simbol yang sengaja dibentuk kemudian setelah sekian lama peristiwa tersebut berlalu yaitu adanya pembelokan kata “Poetoesan Congres” menjadi kata “Sumpah Pemuda”. ini bisa terjadi karena sebagai cara Soekarno untuk memberikan peringatan keras kepada kelompok pejuang islam yang kala itu muncul yang katanya menentang keutuhan bangsa Indonesia.
Sebelum tahun 1928 pergerakan pemuda Indonesia sangatlah banyak. Beragam pula tujuan dan asasnya. Sebagai contoh, Jong Ambon, Jong Java, Jong Sumatera. dan juga ada pergerakan pemuda Islam yang memang menjadikan Islam sebagai ikatan di antara mereka. Namun, seperti sudah kita ketahui sejarahnya, mereka disatukan dalam ikatan yang lebih besar. Jadilah pemuda-pemuda yang tadinya tercerai-berai di berbagai daerah -termasuk yang menjadikan Islam sebagai tujuannya- bersatu dalam semangat Indonesia dalam ikatan Nasionalisme ;Indonesia. Tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu, yakni Indonesia.
Kemudian pada kongres pemuda II tepatnya pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta, barulah isi dari dari sumpah pemuda ini dikumandangkan, lihat saja isi dari sumpahnya:: 1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. 2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia. 3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah peran pemuda Islam kala itu? dan kenapa tidak ada satupun peran agama dalam putusan kata-kata sumpah pemuda itu?
Ikatan Yang Rapuh
Jika kita mecermati sumpah pemuda ini dengan seksama akan kita dapati begitu lemah dan rapuhnya ikatan yang mengikat sumpah pemuda ini. Karena nasionalisme tidak layak untuk dijadikan pengikat di antara pemuda apatah lagi warga Indonesia. Kenapa bisa begitu?
Pertama, karena mutu ikatannya rendah, sehingga tidak mampu mengikat antara manusia satu dengan manusia lainnya tatkala menuju kebangkitan dan kemajuan. Kedua, karena ikatannya bersifat emosional, yang selalu didasarkan pada perasaan yang muncul secara spontan dari naluri mempertahankan diri, yaitu untuk membela diri. Disamping itu sangat berpeluang untuk berubah-ubah, sehingga tidak bisa dijadikan ikatan yang lang¬geng antara manusia satu dengan yang lain. Ketiga, karena ikatannya bersifat temporal, yakni muncul saat membela diri karena datangnya ancaman. Sedangkan dalam keadaan stabil, yaitu keadaan normal, ikatan ini tiada lagi berarti. Dengan demikian, tidak bisa dijadikan pengikat antara sesama manusia.
Oleh karena itu di saat ini ada dan tidak adanya sumpah pemuda itu, kondisi negeri ini sama saja. Bahkan lebih buruk. seharusnya pemuda sebagai corong perubahan dapat berfikir secara mendalam guna menyelamatkan negeri ini dari kehancuran. Sudah saatnya pemuda menjadikan Islam sebagai pengikat idealismenya. itulah ikatan aqidah Islamiyah. Satu-satunya ikatan yang akan mengikat baik dunia maupun akhirat.
Tidak layak pemuda saat ini memperjuangkan nasionalisme apatah lagi kapitalisme-demokrasi. oleh karenanya ditengah kondisi bangsa yang tengah berada dalam cengkraman Kapitalisme-demokrasi ditambah lagi para penguasa yang tiran, seharusnya para pemuda khususnya mahasiswa mampu tampil sebagai juru selamat atas permasalahan yang melanda bangsa ini. Daya nalar yang kritis ditopang dengan naluri perubahan yang terus menggelora menjadikan dirinya sebagai lokomotif perubahan yang akan membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Tentunya harapan mahasiswa tidak lagi mengambil sistem Demokrasi yang lahir dari rahim Kapitalisme.
Dengan daya analisis dan kritis yang cukup baik mahasiswa wajib tidak berharap pada sistem Demokrasi. Prinsip dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat yang selama ini dikumandangkan dan disuarakan oleh para pemuja Demokrasi hanyalah ilusi dan omong kosong belaka. Yang pada faktanya gagal mewujudkan kesejahteraan dan tidak bisa lagi dipertahankan apatah lagi jika berharap pada sistem Sosialis-komunisme juga tidak bisa lagi dharapkan karena sejak dulu telah menemui ajalnya dan tidak akan bisa bangkit lagi. Jadi sistem apakah yang berhak menggantikan sistem Demokrasi? jawabannya adalah sistem Islam yang berasal dari Sang Maha Benar. itulah Ideologi Islam.
Artinya saat ini kita hanyalah berharap pada sistem Islam guna mengawal peradaban najis Demokrasi menemui ajalnya dan digantikan dengan sistem syariah Islam. menuju negeri yang aman sentosa. negeri yang Rahmatan lil Alamin.
Oleh karena itu, setelah kami melihat fakta sumpah pemuda yang hanya ilusi Demokrasi dan tidak mampu menjawab tantangan ideologi penjajah maka kami mahasiswa Indonesia telah bersumpah yang tertera dalam sumpah mahasiswa islam indonesia (KMII,18/10/2009), bahwa :
1. Dengan sepenuh jiwa kami yakin bahwa sistem sekuler baik dalam bentuk Kapitalisme-demokrasi maupun Sosialis-komunis adalah sumber penderitaan rakyat dan sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
2. Dengan sepenuh jiwa kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada ALLAH SWT – Sang Pencipta Alam Semesta Manusia dan Kehidupan- untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
3. Dengan sepenuh jiwa kami akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syariah Islam dalam naugan negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika masyarakat Indonesia dan negeri-negeri muslim lainnya.
4. Dengan sepenuh jiwa kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.
5. Dengan sepenuh jiwa kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah tetapi adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada ALLAH SWT.
Olehnya itu sangat tepat jika kita mengatakan sumpah pemuda sudah di ujung tanduk karena jika sumpah seperti ini tetap dipertahankan, tunggulah kehancuran negeri ini. bersumpahlah hanya untuk ALLAH demi menegakkan yang hak berdasar pada aqidah Islam bukan pada aqidah pancasila ataupun aqidah sekuler. karenanya saya sampaikan pesan kepada seluruh pemuda Islam khususnya mahasiswa Islam “BERJUANGLAH DEMI TEGAKNYA IDEOLOGI ISLAM….!!!, salam perjuangan.
Sumber referensi : Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Untuk Museum, lihat Museum Sumpah Pemuda., Zulkifly hasan Kompasiana, medis(media ideologis) edisi oktober 2012., Peraturan Hidup Dalam Islam(Taqiyuddin an-Nabhani hal 43-45)cetakan 1422 H/2001 M., hosted @ hostemple.com., Partisipasi Penuh Pemuda Menyongsong kebangkitan islam. (mediaumat.com, 28/10/2012)., Teks Sumpah (KMII,18/10/2009).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar